Untuk Tuan Minke.
Beludru merah erat memeluk lukisan,
Bunga Akhir Abad tertawa di atas luasnya harapan.
Seorang lelaki tetap berharap di bawah lipatan duka,
Kumisnya tebal. Ia termenung sembunyikan muka.
Sementara,
Wanita Tiongkok tersenyum dalam bingkai masa lalu.
Tubuh kurusnya tetap kirimkan mimpi dan padamkan haru.
Sempat menjadi penyembuh,
Namun kini hilang tak tersentuh.
Sang pria tetap tenang menunggu gadisnya yang lain,
Jarak menyiksa; sementara air mata tak terseka.
Bocah kecil yang dulu digendong, menjelma menjadi gadis peranakan Eropa yang eloknya tak tertolong.
Sebagai pengagum kecantikan, si pria tak sanggup elakkan,
Terpikir ingin kawinkan raga dan perasaan, namun terbentur penolakkan.
Sang pria hidup berkelakar tabah,
Dua kali ditinggal mati, tapi ia tak akan pernah lelah.
Terbaring diatas lantai,
Kemudian kucurkan air mata penuh hina.
Kepada seluruh penghuni Bumi Manusia,
Anak-anak dari Semua Bangsa,
dan pemilik Jejak Langkah,
Silakan berteduh di Rumah Kaca,
Refleksikan diri dengan melihat kucuran keringat di tiap pori-pori wajah.
Hidup takkan pernah teduh,
Jikalau lutut tiada pernah bersimpuh.

-Ditulis di dalam kelas, saat sedang kuliah Teknologi Hasil Ternak-
Purwokerto, April 2017.
Bunga Akhir Abad tertawa di atas luasnya harapan.
Seorang lelaki tetap berharap di bawah lipatan duka,
Kumisnya tebal. Ia termenung sembunyikan muka.
Sementara,
Wanita Tiongkok tersenyum dalam bingkai masa lalu.
Tubuh kurusnya tetap kirimkan mimpi dan padamkan haru.
Sempat menjadi penyembuh,
Namun kini hilang tak tersentuh.
Sang pria tetap tenang menunggu gadisnya yang lain,
Jarak menyiksa; sementara air mata tak terseka.
Bocah kecil yang dulu digendong, menjelma menjadi gadis peranakan Eropa yang eloknya tak tertolong.
Sebagai pengagum kecantikan, si pria tak sanggup elakkan,
Terpikir ingin kawinkan raga dan perasaan, namun terbentur penolakkan.
Sang pria hidup berkelakar tabah,
Dua kali ditinggal mati, tapi ia tak akan pernah lelah.
Terbaring diatas lantai,
Kemudian kucurkan air mata penuh hina.
Kepada seluruh penghuni Bumi Manusia,
Anak-anak dari Semua Bangsa,
dan pemilik Jejak Langkah,
Silakan berteduh di Rumah Kaca,
Refleksikan diri dengan melihat kucuran keringat di tiap pori-pori wajah.
Hidup takkan pernah teduh,
Jikalau lutut tiada pernah bersimpuh.
-Ditulis di dalam kelas, saat sedang kuliah Teknologi Hasil Ternak-
Purwokerto, April 2017.
Komentar
Posting Komentar