Ik Haat Je, Ben! (Bagian 3)

Pagi ini, aku bangun lebih pagi. Mama bilang, Papa dan Ben akan pulang hari ini. Kusiapkan kue-kue kesukaan Ben. Betapa rindunya aku dengan Ben. Mama telah bercerita semuanya tentang kejadian setahun yang lalu. Kejadian itu membuat Ben sedikit mengubah sikapnya terhadapku. "Mama tak perlu panjang lebar bercerita. Aku melihat kejadian itu. Bukankah Ben mencintaiku?" Mama terperanjat. Dipeluknya aku, kemudian diciuminya aku. "Jaa, Mama. Aku mengintip dari pintu ruang kerja Papa" Aku mulai menangis. "Sayang, bisakah Mama meminta satu hal kepadamu?" Mama menyeka air matanya, dan air mataku kemudian tersenyum. Ia lalu beranjak sedikit dari sampingku dan mulai menarik selimutku. "Ben itu kakakmu, sampai kapanpun kalian tetap saudara. Mama tak pernah membenci Ben, meskipun dia bukan anak kandung Mama. Tapi, Ben butuh Mama selamanya, dan butuh kau, butuh Papa. Jadi, kita tetap keluarga. Cintai Ben seperti kakakmu, tidak lebih" Mama kembali menciumiku dan mengucapkan selamat tidur. "Besok, mereka akan pulang. Tidurlah lebih awal" kata Mama sambil menutup pintu kamarku yang terbuat dari kayu jati (begitu Rohi sering menyebutnya). Aku tak bisa menolak permintaan Mama. Wanita mulia yang sudah menganggap Ben seperti anaknya sendiri. Mama bukannya tidak tau kalau Ben adalah anak hasil hubungan Papa dengan gundiknya yang merupakan wanita Betawi. Mama berulang kali bilang kepadaku, setiap ia melihat Ben, ia selalu melihat wajah Papa. Mama teramat sangat mencintai Papa. Mama tak pernah tega untuk bersikap berbeda kepada Ben, membentaknya pun Mama hampir tidak pernah. Tidak pernah sama sekali Mama membeda-bedakan sikap dan kasih sayangnya terhadap aku dan Ben. Mama, sungguh besar salah Papa telah mengkhianati wanita mulia seperti mu. Suara andong sontak membangunkan ragaku dari sitje di ruang tengah. Sitje yang dibeli Papa ditanah Jawa dan sungguh nyaman. Dari kejauhan, aku melihat Papa menutup kedua matanya dengan setangan yang selalu ia bawa. Papa turun, kemudian memelukku. "Papa. aku rindu" Papa terdengar menangis dalam pelukanku. "Kemana Ben?" mataku sibuk mencari keberadaan Ben. Diatas Andong, hanya terlihat Tardi yang juga ikut menunduk. Papa memberikan sebuah surat dan berkata "Tiada, Lili. Kakakmu pergi" aku berlari ke kamar Ben, dan mulai membaca suratnya. Isinya seperti ini: Buitenzorg, 7 April 1938. Lili, Adikku selamanya. Maafkan aku pernah mencintaimu dan ingin memilikimu sepenuhnya. Aku sudah berusaha menahan, tetapi tak bisa. Sampai pada akhirnya aku mengakuinya kepada Papa dan Papa menghajarku. Sejak saat itu, aku menjadi pria cengeng yang gemar menangis setiap malam. Setiap pukul 11 malam, aku mengunjungi kamarmu, aku belai rambutmu, dan aku naikkan selimutmu. Kadang, aku takut kau terbangun. Aku jaga suara dan langkah kakiku. Sesampainya di kamar, aku kembali menangis. Aku tak ingin kehilanganmu, Lili. Aku selalu memuja Tuhan dan berterimakasih karena telah menciptakanmu, meskipun dari rahim perempuan yang berbeda. Lili, Mama mengirimkan surat kepadaku, bahwa kau tak ingin melanjutkan sekolahmu ke Nederland tanpa aku? Tidak, dik. Kau harus melanjutkan sekolah mu. Jadilah gadis yang gilang gemilang. Kau cantik, banyak pria menginginkanmu. Aku tak ingin kau dibodohi oleh mereka. Di rak buku ku, sudah ku siapkan semua buku yang kau perlukan. Bacalah, Lili. Pelajarilah. Hanya ini satu-satunya cara aku bisa melindungimu dari orang-orang jahat di jaman gila seperti ini. Kau tau? Aku menulis surat ini dipinggir danau yang sering kita kunjungi dahulu. Melihat angsa berenang, anak-anak berlarian, wanita mendorong kereta bayinya. Sungguh damai, Lili. Lili, aku hampir tak punya waktu istirahat disini. Papa seorang tuan tanah yang sibuk. Aku harus mendampinginya kemanapun ia pergi, dan harus membantunya. Kadang, kalau Papa merasa tak enak badan, aku yang pergi menemui kolega dan rekan kerjanya. Rata-rata pegawai Gubermen di Buitenzorg. Lelah, Lili. Tiga bulan disini seperti tiga tahun. Tiada kau, tiada Mama. Hanya tumpukan kertas yang harus kupelajari. Tapi, tak apa. Aku memang harus melakukannya untuk laki-laki yang paling aku cinta, Papa. Surat ini belum selesai. Aku bertemu seorang gadis bernama Louisa Smith, peranakan Inggris yang sangat baik. Ia anak dari rekan kerja Papa. Loui seumuran denganmu, sedikit bandel, namun ia tegas. Dimatanya, ada ribuan alasan mengapa aku menyukainya. Bertukar pikiran, berpendapat, sampai berdebat dengannya. Berbicara dengannya, seperti berbicara dengan wanita dewasa yang umurnya jauh melebihiku. Padahal, umurnya satu tahun dibawahku. Melihat matanya, aku ingin memilikinya. Bukankah kau sangat menginginkan kakak perempuan? Aku yakin, ia akan menjadi kakak yang baik untukmu. Lili, aku telah menikahi Loui, dan sekarang aku harus hijrah ke Inggris untuknya. Melanjutkan sekolahku, dan melanjutkan hidupku. Lili, Cintaku. Tak taulah aku kapan kembali ke Hindia. Akan ku kirimkan segera surat untukmu jikalau aku berencana mengunjungi Hindia. Selamat menjalani hidupmu. Aku menyayangimu. Benjamin" 
Setelah membaca surat itu, aku menghampiri Papa dan Mama diruang tengah. Membanting segala perabot yang ada dan aku mengumpat dengan bahasa Belanda "Mengapa ia tak kembali ke sini dulu, Papa? Mengapa ia tak meminta persetujuan aku dulu? Aku membenci Ben. Ik haat Ben, Mama" aku membungkuk, Mama dengan sigap menangkapku yang mengamuk seperti anjing gila. Tak taulah aku, betapa hatiku kecewa dibuatnya. Aku dan Ben sudah berjanji akan menjaga satu sama lain sampai kapanpun. Tapi, Ben ingkar. Papa hanya bisa menangis, dan aku berdiri membuang tangan Mama yang sedari tadi merangkulku. "Ben telah surati Mama tentang kepergiannya? tentang pernikahannya?" aku mundur beberapa langkah dan menjaga jarak dengan orangtuaku. Mama mengangguk halus sambil merentangkan tangannya. Berusaha meraih tubuhku, ia ingin memelukku kembali. "Mama pun berbohong. Mama bilang, Papa akan pulang bersama kakakku". Aku langsung berlari dan membanting pintu kamarku. Aku kecewa, Ben. Aku marah. Aku membencimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme