Lupa

Miriam, si gadis manis pemilik hati tangguh.

Ia gemar berkeliling, mengulurkan tangan kepada siapa saja yang butuh.

Menyongsong gegap gempita kehidupan, Miriam rela berkeringat demi sebuah kebenaran

Miriam mulai menerima bahwa dirinya menjadi tempat bersandar banyak jiwa

Ia kemudian merelakan senyumnya untuk semua, padahal dirinya sedang jatuh merana.

 

Terlalu asyik berkeliling,

Miriam baru tersadar.

Kakinya kini tak lagi ada,

Semangatnya sekarang mulai mereda.

Ia berteriak sekuat tenaga,

Namun, tak satupun jiwa yang ia hibur dapat mendengar.

 

Kini, Miriam meringkung sendiri

Miriam lupa, dirinya sudah tak lagi dibutuhkan.

“Asalkan jiwa-jiwa itu bahagia, tak apa aku membusuk seorang diri,” ujarnya sambil bersiap

bertemu Tuhan.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme