Tanpa Ujung (Bagian Ketiga)


“Kamu itu adalah seorang istri. Tugasmu hanya mengurus keluarga, terutama Kina,” Surya berkata hingga merah matanya. Kini, dirinya teramat sangat marah kepada istri yang telah dinikahinya selama 30 tahun itu. “Kalau aku hanya diam dirumah dan mengurus anak kau itu, mau makan apa kita? Cacing? Belatung? Kina mau kita kasih apa? Makanan dari tempat sampah? Jawab, Bang” Sarmi mengguncangkan bahu suaminya berkali-kali, menuntut jawaban. “Kina bilang, kau pergi dengan seorang pria. Siapa itu?” Surya bertanya dengan tajam.
“Tidak usah mengalihkan pembicaraan, Bang. Itu urusanku,”
“Jelas itu urusanku, Sarmi. Kamu adalah istriku. Aku yang bertanggungjawab atas hidupmu. Sampai aku terbaring di liang lahat, kamu akan tetap menjadi tanggungjawabku. Tiga puluh tahun lalu, aku ber ikrar untuk menjagamu di hadapan Tuhan dan keluarga besar kita. Jangan seenaknya kamu bilang itu urusanmu,”
                Sarmi kemudian berlari meninggalkan surya, diiringi jeritan Kina yang histeris melihat pertengkaran kedua orangtuanya.
..................................................................................................................................................................
                “Saya tidak pernah membunuh Bapak, pria bajingan itu yang menusuk Bapak. namanya Toro, ya, Toro. Kemana kau, bajingan?” Kina berdiri dan mencoba menghindar dari tatapan mata Rega. “Hanya itu yang bisa saya ucapkan. Kalau memang sampai akhir saya tetap dijadikan tersangka dan harus dihukum mati, saya ikhlas. Itu salah satu jalan saya agar bisa bertemu kembali dengan Bapak. Saya sudah cukup lelah, perjalanan panjang ini terlalu berat dan berliku. Saya hanya takut tidak akan bertemu dengan akhir,” kini, wanita itu kembali tertunduk sambil memandangi kedua tangannya yang di borgol. “Saya akan membantu kamu hingga akhir, Kina. Saya percaya padamu,” Rega memeluk Kina yang terlihat berantakan seperti orang gila.
..................................................................................................................................................................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme