Tanpa Ujung (Bagian Pertama)

Kina merasa sangat lelah saat ia harus menapaki langkah menuju pesakitan. Dihadapannya, berjajar beberapa orang jaksa. Saat tiba diruang sidang, Kina disambut sorakan orang-orang; entah siapa dan darimana. Kina memberanikan diri mengangkat wajah dan sedikit melempar padangan ke arah mereka, namun tak satupun dikenalnya.
                Dua polisi wanita berbadan lebih tinggi yang sedari tadi menggenggam lengan Kina pun menyilakannya duduk. Tatapan seorang pria paruh baya membuat Kina sedikit gemetar. “Rakina Amanda Satya, kamu sadar salahmu apa?” tanya pria itu sopan, pelan, namun diucapkan dengan intonasi menekan. Kina hanya sanggup menggelengkan kepala dan berkata lemah, “Bukan saya, Pak” sontak, perkataan gadis 20 tahun itupun disambut dengan celotehan dan cemoohan “para undangan” yang hadir. “Pembunuh kau, bangsat!” , “Wanita tak tahu diuntung,” dan berbagai hujatan lain. Kina hanya mematung. Ia tertunduk lesu, pikirannya buntu. Harapannya lepas, tak tahu harus berbuat apalagi disaat semua orang tak percaya perkataannya. Penderitaan yang ia alami ini terasa seperti perjalanan menyakitkan yang tidak mempunyai akhir.
.................................................................................................................................................................
Waktu yang dinanti Kina pun tiba, yakni akhir persidangan. Tanpa mengenakan alas kaki, ia digiring kembali kedalam jeruji besi. Didalam kepalanya hanya ada dua cabang keputusan yang siap dilaluinya. Hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman mati. Dalam perjalanannya menuju kembali ke hotel prodeo, ia terus bergumam “Saya tidak bersalah, saya tidak bersalah, saya tidak bersalaaahh,” terkadang gumamannya itu meledak menjadi teriakan yang berujung tangisan kencang. Rupanya seperti orang kerasukan setan, matanya merah, dan bibirnya bergetar hebat. Kemudian, ia mendengar seorang polisi berpakaian lengkap berbicara tepat disamping telinga kanannya “Jangan takut mengakui kesalahanmu, Rakina. Orangtuamu pasti akan lebih bangga,”
..................................................................................................................................................................

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme