Tanpa Ujung (Bagian Keempat)
Malam itu, hujan turun disertai petir tanpa ampun. Samar-samar melalui
jendela yang dilapisi gorden tipis, Kina melihat Ibunya bersama Toro, tetangga
sebelah rumah yang gemar bermain perempuan setelah dicerai istrinya setahun
lalu. Toro terlihat asyik merangkul pinggul Sarmi dibawah derasnya hujan,
sesekali ia melumat bibir Sarmi. Tangannya menggerayangi kaos tipis Sarmi dan
berusaha menggapai isinya. Kina hancur bukan main, ia masih bisa menahan emosi
hingga akhirnya Sarmi dan Toro sampai di teras rumah. Mereka berlaku seperti
hewan, menanggalkan pakaian kemudian bercinta ditemani cipratan air hujan. Kina
murka dan menjerit.
Jeritan itu
sontak memaksa Sarmi dan Toro menyudahi kegiatan mereka, sekaligus mengejutkan
Surya yang tidur di kamar depan. “Kurang ajar! Ibu macam apa kau? Istri macam
apa kau, Sarmi?” Kina membuka pintu rumah dan mendapati Ibunya gelagapan sambil
kembali mengenakan pakaiannya; pun Toro yang terkejut bukan kepalang. “Bangsat
kalian! Saya perduli setan dengan kewajiban berbakti kepada Ibu. Kamu, Sarmi
bukan Ibu saya,” Surya menahan Kina untuk tidak
mendekati Sarmi. Kali ini, Surya kehabisan kata-kata. Setengah mati ia
menahan anaknya yang bertingkah seperti orang kesetanan. Tak disangka, Toro
membawa sebilah pisau lipat kecil yang ia sematkan di saku belakang celana
bahannya. “Sarmi, setelah aku menikmati tubuhmu, aku minta untuk bisa menikmati
anakmu juga,” Toro betul-betul bajingan. Dimana perasaannya? Padahal, ia punya
satu orang anak gadis seusia Kina. Dimana hati nuraninya sebagai seorang ayah?
Mendengar
perkataan Toro, kini giliran Surya yang mengamuk.
“Kau sudah hancurkan istriku, hancurkan aku, dan kini kau akan ambil
juga anakku? Hingga mati aku tak akan pernah rela keluargaku hancur
ditanganmu,” air muka Surya menyetan, ia berteriak-teriak dan mendorong tubuh
Toro. Secepat kilat, Toro menancapkan pisau ke perut Surya sembari berteriak
“Mati, kau. Mati kau, Suryaaaaa,”
Surya menghela
napas panjang dalam tenang. Tak terlihat sedikitpun gurat kesakitan dan
kesedihan diwajahnya. Menjelang pergi, ia sempat menoleh kearah Kina dan
berujar lemah. “Tumbuh lah menjadi gadis berani, Rakina. Bapak selalu ada di
hati Kina. Ambil kalung Bapak ini, simpan. Peluk kalung ini kalau Kina rindu
Bapak,” kemudian Surya menutup mata dan pergi dengan damai.
Sudah tidak bisa
lagi menangis, Kina mengambil pisau yang menancap pada Bapaknya. Saat itulah
beberapa orang warga datang dan melihat Kina menggenggam pisau itu. “Pembunuh!
Gadis itu membunuh Bapaknya. Ayo, Sarmi. Kamu tidak pantas menjadi Ibu seorang
pembunuh,” Toro berkata sambil menarik lengan Sarmi. Kemudian, para tetangga
membawa Kina ke kantor polisi dan tidak memberikan kesempatan baginya untuk
mengatakan yang sejujurnya.
..................................................................................................................................................................
Aji sudah baca
BalasHapus