Tanpa Ujung (Bagian Kelima)
Menjelang akhir waktu keputusan, Kina terus didesak untuk berkata
sejujurnya. Ratusan kali pemeriksaan telah ia jalani, namun Kina tetap bungkam
dan tetap pada pendiriannya. Memang, kenyataannya Toro lah yang merenggut nyawa
ayahnya. “Kina, ini ada kiriman,” Rega menyelipkan tangannya diantara jeruji
besi yang mengurung Kina. Ia menyodorkan sebuah amplop cokelat yang cukup
besar, kemudian Kina membuka dan mendapati beberapa foto-foto makam. “Makam
ayahmu sudah aku bersihkan,” Rega berkata halus sambil memandangi wajah Kina
yang selalu tersenyum tiap kali menerima foto kondisi terbaru makam ayahnya.
Didalam amplop yang diberikan, ada sekitar lima foto makam Surya yang diambil
dari sisi berbeda. Kina terus melihat foto-foto itu dengan runut dan teliti,
sampai akhirnya ia tiba pada foto keenam. Di batu nisannya tertulis nama
ibunya. “Sarmi mati? Bagus, berkurang satu wanita tak berguna di muka bumi
ini,” ekspresi Kina datar, Rega yang tercengang kembali memberikan pencerahan
kepada Kina. “Rakina, ada baiknya kau doakan Ibumu. Biar bagaimanapun, ia yang
telah melahirkan kau, mengurus kamu, me......” belum selesai Rega bicara, Kina
sudah berteriak, “Anda tidak pernah mengerti apa yang sebetulnya terjadi.
Tolong diam, dan jangan ikut campur urusan saya,” kemudain Kina terduduk di
sudut ruang tahanannya, kembali memanggil Bapaknya yang tak akan pernah kembali
sampai kapanpun.
..................................................................................................................................................................
Awal bulan ke
sepuluh tahun ini, mungkin menjadi bulan terakhir untuk Rakina. Ya, satu minggu
yang lalu Kina diputus bersalah dan mendapat hukuman mati. Rega, menjadi
manusia yang paling hancur. Sebentar lagi, ia akan kehilangan yang dicintainya.
Beragam usaha telah ia lakukan untuk membantu Kina. Hasilnya nihil.
Satu jam
menjelang eksekusi, Rakina dibebaskan. Ia diperbolehkan berjalan-jalan di
sekitar rutan, ditemani Rega. “Ga, terimakasih ya kamu sudah ada untuk saya.
Terimakasih sudah membantu saya,” senyum bahagia tak pernah pudar dari bibirnya
yang tipis. Rega tak bisa berkata banyak, sisa waktunya bersama Rakina dipergunakan
hanya untuk memandangi wajah wanitanya itu. Sebentar lagi, Rakina akan
pergi.... pergi untuk selama-lamanya. Pergi bertemu Ayahnya, bergi menemui
Ibunya untuk kemudian kembali berdamai.
Okee
BalasHapus