Nippon (Bagian 5)
Senang rasanya aku selalu dibersamakan dengan Jo. Sekarang, dia bukan hanya penjagaku yang dilantik langusng oleh Ben. Tapi Jo juga menjadi sahabatku, pendengar terbaikku, dan tamengku dari hal-hal menyedihkan. Hari-hariku menjadi lebih bahagia semenjak....kepergian Ben. Terimakasih, Jo. Saat aku sedang asyik berbincang dengan Jo, Rohi datang dan duduk mengampu didepanku. "Noni, sahaya mohon ampun. Sahaya harus pergi" Rohi berkata sambil menundukkan kepala. Kudengar suaranya bergetar, kemudian ia berusaha menahan airmata. "Ada apa, Rohi? Apa kau semakin tak kuat mengurusiku yang semakin dewasa ini? Apakah uang yang diberikan Papa kurang untuk membayar jasamu?" Aku sontak kaget dengan pernyataannya. Disampingku, Jo langsung berdiri, matanya tajam mengawasi Rohi. "Tidak, Noni. Sahaya mohon izin, mohon ampun. Suami sahaya sakit di Cheribon. Kuli, Noni, demam tinggi sudah satu minggu lebih. Sahaya tak kuat untuk tak bertemu dan merawatnya. Mohon ampun, Noni" Cheribon adalah kota di Jawa Barat, mungkin sekarang kalian menyebut kota itu sebagai Cirebon. Rohi mulai mengangkat wajahnya, dan wajahnya sudah banjir diterjang airmata, begitupula denganku. Kubangunkan raganya, kemudian aku peluk erat tubuhnya. Tubuh wanita yang sedari kecil selalu aku peluk saat ketakutan, terkadang kalau Mama pergi menginap di Buitenzorg, Rohi lah yang menemaniku dikamar dan menceritakan beberapa dongeng yang ia ketahui. "Pergilah, Rohi. Aku tak apa. Kau lihat? Sudah ada Jo yang menjagaku. Tak apa, Rohi" kemudian Rohi bersujud di kakiku. Tentu saja aku tak membiarkannya. Aku angkat kembali raganya, kemudian aku panggil Tardi. Ia berlari menghampiri kami, dan aku berkata "Kau temani Emakmu, jangan biarkan dia pergi sendiri. Bawalah andong itu, lalu bawa Bapakmu ke mantri atau siapa saja yang bisa menyembuhkannya" tanpa mendengarkan jawabannya, aku berlari ke dapur, kemudian mengambil uang tabunganku dikamar. "Ini, ada sedikit gandum, susu, dan kue ringan untuk kau selama diperjalanan, dan ini Rohi. Aku hanya punya 10 gulden. Terimalah" Rohi kemudian kembali bersujud di kakiku, lalu memelukku dengan erat, lebih erat dari biasanya. "Terimakasih banyak, Noni. 10 gulden amatlah banyak untuk sahaya dan keluarga. Mohon ampun apabila sahaya banyak menyusahkan Noni, Nyonya, Tuan Besar, dan Tuan Ben selama ini. Mohon ampun apabila sahaya belumlah menjadi pengasuh yang baik untuk Noni" Rohi kemudian juga pamit dengan Mama yang sedari tadi ikut menangis melihat adegan ini. Kemudian, berjabat tangan dengan Jo dan pergi, diikuti anaknya Tardi yang tak berani berkata apapun. "Jangan pernah lupakan aku, Rohi. Berkunjunglah kesini sebagai tamu apabila kau ada waktu, dan suami mu sudah sehat" Rohi hanya mengangguk sembari melambaikan tangan. Andong semakin jauh dan tak terlihat. Aku menghempaskan tubuhku diatas sitje. Kemudian memejamkan mataku sejenak. Terdengar suara andong lainnya yang masuk ke pekarangan rumahku. Ternyata, itu adalah tuan Komm, seorang pegawai Gubermen yang juga merupakan rekan kerja Papa. Aku pernah melihatnya sekali, saat umurku 10 tahun. Setelah itu, aku tak pernah bertemunya lagi. "Noni Aleeda, sudah sebesar ini kau rupanya" saat ia mulai menyapaku, Jo langsung menghampiri kami dan berdiri tepat didepanku. Aku tau, ia mencoba melindungiku dari sapaan orang asing. "Aku Komm, rekan kerja tuan van Degraff. Kita pernah bertemu, bukan? Sekitar 7 tahun yang lalu. Ahaaa, sudah begitu cantik kau. Peranakan aseli Nederland. Siapa pria yang tak mau memilikimu?" godanya dalam Belanda. Ia semakin lancang berbicara kepadaku, dan berusaha menggapai aku. "Maaf, tuan. Tuan Degraff sedang pergi ke kantor Gubermen. Adakah sekiranya yang bisa sahaya bantu? Mohon menjauhlah dari Noni. Ia tak mengenal tuan" Jo semakin melindungiku. Ia melingkarkan tangan kanannya kearah tubuhku dan menjagaku agar tetap berada dekat dibelakang tubuhnya. "Kau Jo? Anak dari tuan Hosh dan si cantik Julia? Disini rupanya kau sekarang. Melindungi si cantik Aleeda" kata Komm sambil memilin kumisnya, dan mengeluarkan secarik kertas yang dilipat dan diberi sebuah pita biru sebagai pengikatnya. "Aih, aku hanya menyampaikan undangan makan malam ini untuk keluarga tuan Degraff. Ada acara di De Harmonie pada akhir pekan ini. Sekiranya Noni Aleeda ingin ikut hadir, aku tak segan untuk mendampingimu dan menemanimu berdansa" ia semakin kurangajar. Jo langsung menyambar kertas itu dan mempersilakannya pergi, kemudian berbisik kepadaku dalam Belanda "Tetap dibelakangku. Orang ini sedikit terganggu kewarasannya". De Harmonie adalah tempat pertemuan orang-orang penting dan petinggi Gubermen, yang datang kesana biasanya pejabat, tuan tanah, sampai tamu Pemerintahan. Sulit untuk masuk kesana, karena kau harus memiliki undangan resmi dari Gubermen. Kemudian mataku terus memperhatikan lelaki itu sembari mengiringinya pergi dan menghilang dengan andongnya. Komm; pria paruh baya yang ditinggal mati istrinya dan tak punya sopan santun.
Aku memutuskan tak datang keacara itu. Sudah ku katakan kepada Papa, kalau aku tak ingin bertemu pria gila itu lagi untuk selamanya. Kemudian, aku memutuskan untuk memberi makan dua ekor kudaku yang ada dibelakang rumah. Kudapati Jo sudah terlebih dahulu memberinya makan. "Sudahkah kau mendengar akan datangnya tentara Nippon?" Jo berbicara sambil mencuci tangannya yang penuh ditempeli jerami sisa pakan kuda. "Nee, siapa mereka?" aku terheran dan terus bertanya kepada Jo. Nippon adalah sebutan orang Nederland untuk tentara Jepang. "Jaa, kabarnya mereka akan datang, merebut kekuasaan Nederland di negara ini dan...." Jo mengentikan pembicaraannya. "Dan?" aku menarik bajunya dan sedikit protes karena Jo selalu seperti ini. Menghentikan perkataannya ditengah-tengah cerita. "Dan, akan menangkap semua orang Nederland di Hindia. Tak hanya di Betawi, Lili. Tapi di Hindia" aku tak kaget. Aku pernah membaca sebuah buku di kamar Ben (aku lupa apa judul buku tersebut. Hanya saja, buku tersebut ditulis oleh anggota VOC sekitar tahun 1700an dan berbahasa Belanda). Buku itu memperkirakan bahwa suatu saat, akan ada bangsa lain dari Asia yang datang dan membumi hanguskan bangsa Nederland di Hindia. Aku baru sadar, bahwa maksud buku itu adalah tentara Nippon. "Lalu, kalau Nippon sampai disini, kita semua akan mati? Akan menjadi onggokan daging yang tinggal menunggu dikubur? Begitu, Jo?" Jo hanya mengangkat pundaknya dan mengkerutkan dahinya tanda tak tahu. Ia kemudian mendekatiku, sekarang wajahnya tepat berada didepan wajahku. "Kau indah, Lili. Takkan kubiarkan seorangpun menyentuhmu, melukaimu, dan membuatmu menjerit ketakutan. Jaa, aku jatuh cinta kepadamu" kemudian ia mengecup pipi kananku, dan pergi. Oh, Jo. Sepertinya aku merasakan hal yang sama denganmu.
Komentar
Posting Komentar