Weltevreden (Bagian 4)

Tak butuh waktu lama bagiku untuk merelakan Ben pergi, hanya dua minggu setelahnya aku berhasil bangkit. Ben tak ingkar, ia tetap menjagaku dengan buku-bukunya. Ben tak mau aku terbelakang, terpinggirkan oleh manusia-manusia di Betawi ini yang sudah mulai maju. Sedari kecil, Ben selalu menginginkanku menjadi wanita yang cerdas seperti Mama. Kemudian, kuberanikan diri membuka kamar Ben. Lalu, mulai ku ambil beberapa buku yang menarik. Salah satunya adalah buku Medan, buku yang ditulis oleh Kartoatmadja seorang terpelajar Pribumi dari tanah Jawa. Mengisahkan kebangkitan dan tenggelamnya sebuah organisasi yang diketuai Raden Mas Minke. Baru membaca halaman pertamanya saja, aku langsung tertarik dengan kepribadian lelaki ini. Pribumi yang berani. Mungkin, karena ia terpelajar, jadi tak bisa ditindas begitu saja oleh Pemerintah. Aku keluar dari kamar Ben sambil setengah berlari. Kemudian, aku melihat Jo sedang duduk di sitje, akupun menyusul duduk disebelahnya dan membuka pembicaraan dengannya. "Sore-sore begini, rasanya jarang aku melihat kau termenung" aku duduk disampingnya, dan bertanya dalam Melayu. "Bahasa Melayumu buruk" katanya dalam Belanda sambil mengejek. Jo, seperti yang sudah aku kisahkan, ia putera dari anak buah Papa. Tak dapat kusangkal, Jo adalah seorang pria yang tampan. Badannya tinggi, tegap, dan kuat. Kulitnya pun bersih, dengan rambutnya yang emas dan selalu disisir ke samping. Ada sebuah tahi lalat yang menghiasi bawah bibirnya. Dua tumpukan daging itu terlihat sempurna dengan warnanya yang merah muda. "Mau berjalan-jalan ke Weltevreden?" tiba-tiba Jo memalingkan wajahnya kepadaku yang sedang khusyuk membaca buku. "Tinggalkan saja bukumu, mari berjalan-jalan sejenak" katanya dalam Jerman. Aku mengerti sedikit-sedikit bahasa Jerman, karena Papa, Jo, dan Ben sering menggunakan bahasa itu saat berbincang. "Ide yang bagus, Jo" Mama muncul dari dalam, kemudian mencubit pipiku. Jo tersentak, ia langsung berdiri dan membungkuk memberi hormat. "Maafkan sahaya karena telah lancang mengajak Noni bepergian, Mevrouw" Jo tetap membungkuk. "Tak apa, Jo. Juffrouw Lili butuh tamasya sejenak. Mari, Tardi menunggu" senyum Mama sangat lebar, Mama juga suka berbincang dengan Jo masalah pekerjaan. Dimatanya, Jo adalah pria yang cerdas dan baik. 
Andong terus berjalan menyusuri Weltevreden, pemukiman warga elit Eropa yang asri, dipenuhi gedung-gedung megah, dan sejuk. Dulunya, tempat itu dijadikan tempat peristirahatan petinggi atau pejabat VOC. Kami melewati Stasiun Weltevreden (Gambir), kemudian aku menepuk pundak Tardi. "Berhenti" Tardi mengiyakan, dan berbicara dalam Melayu "Mohon izin, Noni. Sekiranya sahaya boleh memberikan saran, janganlah Noni bermain terlalu jauh. Ini daerah yang sibuk, Noni" Tardi berbicara sambil menundukkan wajahnya. "Baik. aku hanya ingin melihat spoor, dan satu lagi, Tardi. Berhenti menunduk saat berbicara denganku" Spoor dalam bahasa Melayu artinya kereta, atau beberapa orang Nederland menyebutnya trein. Aku turun dari andong, disusul Jo. Sambil melihat pemandangan sekitar, aku dan Jo terus berjalan, masuk ke dalam stasiun. "Kau percaya? barang lima puluh tahun lagi kawasan Weltevreden ini akan menjadi pusat pemerintahan" Jo mengguruiku. "Bukannya sudah?" aku menatapnya heran. Tanpa menjawab pertanyaanku, ia kemudian menarik tanganku untuk kembali ke andong. "Koningsplein, Tardi" Jo buru-buru membantuku menaiki andong dan berbisik ke kuping Tardi. Koningsplein, kalian menyebut tempat itu saat ini adalah Lapangan Monas. Disana, kami berhenti. Sepanjang perjalanan (yang tidak terlalu jauh), Jo terus bercerita dengan Melayu. Menurutku, bahasa Melayunya baik, dan sangat halus. Tiba di Koningsplein, Jo menarik tanganku dan mengajakku berjalan-jalan. Bersama dengannya, aku merasakan hal yang sama saat aku berjalan dengan Ben. "Ben sangat menyayangimu, Lili" Jo berbicara dengan suara yang sangat pelan, seperti berbisik. "Sepertinya, aku harus menceritakannya kepadamu", kemudian Jo mengajakku duduk dibawah sebuah pohon. Didepan kami, banyak sekali anak-anak Nederland berlarian, bermain dan tertawa. Ditemani orangtua mereka. Kebanyakan yang tinggal disini adalah orang-orang terhormat, atau pejabat Gubermen. "Mungkin kau takkan pernah tau, Ben selalu bercerita tentangmu. Umurku dan Ben setara, jadi kami nyaman apabila berbincang" Jo mulai menatap kedepan, dengan sedikit menyipitkan matanya, sesekali ia meluruskan kakinya. "Ben?" aku mulai menahan air mata, biar bagaimanapun aku sangat merindukan kakakku, Ben. "Jaaaa, ia amat menyayangimu. Dua hari sebelum kau terima surat darinya, Ben terlebih dahulu menyuratiku. Ia menyuruhku agar terus menjagamu. Sekarang, aku resmi menjadi pengawal pribadimu, Lili. Bukan lagi pengawal Tuan van Degraff. Usulan Ben agar aku terus mengawalmu sudah disetujui Tuan dan Mevrouw" Jo menatapku, dan aku sama sekali enggan melihat kearahanya. "Kau bilang, kau sudah merelakan Ben? tapi mengapa masih saja menjatuhkan air mata? Aku tak pernah tega melihat seorang wanita menangis, Lili. Aku telah berjanji kepada Ben untuk tetap menjagamu. Ben, sahabatku sejak lama. Aku yang menemaninya saat sakit. Saat kau, Ibumu, dan Ayahmu pergi ke Nederland barang stengah tahun, Ben sering sekali demam tinggi. Aku yang mendekap tubuhnya, berharap agar sakitnya pindah ke tubuhku. Aku yang menyiapkannya makan, aku pula yang menjaganya seharian. Ben tak pernah melepas tanganku. Setiap malam, ia selalu memanggil namamu. Aleeda, Aleeda. Begitu katanya. Bukannya aku tak tau, kalau Ben menginginkanmu. Setelah Ben mengunjungimu dikamar setiap malam, aku sering memergokinya menangis dikamarnya, pernah suatu kali Ben mencoba menyayat nadinya. Kemudian aku berlari membuka pintu kamarnya dan mencegahnya. Aku memeluk Ben dan kami menangis. Seperti anak kecil, Lili." Jo kini berpindah tempat ke hadapanku, bukan lagi disampingku. Ia mengangkat wajahku yang sedari tadi tertunduk dan mulai basah dengan airmata. "Lalu?" aku berharap Jo menyelesaikan ceritanya. "Lalu, aku menyuruh Ben untuk segera menikah. Kebetulan, aku punya sahabat bernama Louisa Smith. Sahabatku dulu saat masih tinggal di Buitenzorg. Aku juga mencintai Loui, tapi ayahnya tak pernah berikan izin. Pergilah kakakmu bersama Ayahmu ke sana, kemudian Loui dan Ben bertemu. Hanya dengan cara itu aku bisa menjaga Loui, dengan memberikan Loui kepada orang yang sangat aku percaya, yaitu kakakmu Ben" saat itu, Jo juga menitikan airmata. Tak kusangka, ia adalah pria yang baik. Setelah percakapan panjang itu, Jo bangkit dan membantuku bangkit. Ia menghapus airmataku dan menuntunku kembali ke andong. Weltevreden, dengan kesejukannya. Terimakasih telah menjadi tempat pertamaku bercakap dengan Jo. Malaikat yang selama ini menjagaku dan Ben.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme