Sedikit Kisah Dariku, Benjamin Rudi van Degraff (Bagian 2)

Benjamin Rudi van Degraff, kalian bertanya-tanya mengapa nama "Rudi" terselip ditengah namaku? Nama yang sangat inlander. Aku tidak seperti Lili, yang kedua orangtuanya merupakan orang Belanda asli. Aku memang putera Tuan Joddy van Degraff (ayahku dan Lili), namun aku bukan anak Mevrouw Elditha Kohl van Degraff (ibunda Lili). Aku adalah anak Salimah, wanita pribumi yang pernah menjadi gundik Papa. Ibuku, Salimah sudah meninggal saat aku berumur 1 tahun. Ia sakit keras, dan sampai saat ini aku tak pernah tau sakit apa yang ia derita. Nyai Salimah adalah wanita asli Betawi yang dijadikan wanita simpanan Papa, saat istri sah nya masih menetap di Belanda. Enam bulan setelah ibuku meninggal, Mevrouw El datang ke Hindia dengan kondisi hamil besar, dan akan melahirkan. Aku heran, mengapa wanita dengan kondisi hamil besar seperti itu diperbolehkan berlayar dari Belanda ke Hindia yang membutuhkan waktu hampir sebulan. Saat Mevrouw El datang, ia langsung memelukku dan menangis. Aku masih ingat, ia mengenakan gaun megar berwarna hitam dengan motif bunga. Wajahnya sangat cantik, dengan rambut berwarna emas dan digulung keatas. Memperlihatkan tengkuknya yang sangat putih dan mulus. Aku, yang belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu langsung menerima pelukannya dan ikut menangis. Sejak saat itu aku memanggilnya "Mama". 
Kini, hidupku semakin berwarna dan sangat bahagia karena telah lahir Aleeda Eliza van Degraff atau yang sering aku panggil Lili. Lili merupakan anak yang manis dan sangat cantik. Wajahnya sangat Eropa, dengan kulit putih mulus disertai bintik-bintik cokelat disekitar hidung dan bawah matanya. Kulit khas wanita Eropa. Rambutnya panjang dan lurus, berwarna cokelat tua. Hidungnya naik sempurna, matanya bulat dan pupilnya berwarna cokelat tua. Aku berani bertaruh, siapapun yang menatap matanya akan langsung jatuh cinta. Begitupun aku. Suaranya sangat pelan, dan teduh. Lili tak pernah sekalipun membentak atau memarahi orang-orang disekitarnya. Ah....Lili ku. Betapa sempurnanya kau. Aku dan Lili selalu menghabiskan waktu berdua. Lili, gadis kecilku yang selalu dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Sampai pada akhirnya, Lili bertanya dalam Melayu yang terbata-bata "Ben, apakah kau menyayangiku?" tanyanya sambil merajut sebuah topi, dihalaman belakang rumah kami. Aku yang sedang meneguk segelas kopi langsung tersedak dan tertawa. "Jelas" jawabku dalam Belanda sambil membelai rambutnya. Lalu, kami membisu sambil menyaksikan para pembantu membersihkan halaman belakang dari daun-daun kering yang kehilangan keseimbangannya kemudian jatuh, tergeletak begitu saja. "Lili, aku menyayangimu lebih dari seorang adik. Aku mencintaimu, aku tau ini salah. Tapi, kau bukanlah adik kandungku. Lili, betapa baiknya Tuhan ciptakan kau dalam hidupku".Aku bergumam dalam hati, sambil menatapnya nanar. Kini, usianya menginjak 16 tahun, dan aku 17 tahun. Saat itu juga, aku harus membuat pengakuan kepada Papa. Semakin ku pendam rasa ini, aku takut malah menyakiti Lili. Orang-orang mungkin mengira aku gila,karena membuat pengakuan seperti ini kepada Papa. Namun, Papa sendiri yang mengajarkanku untuk langsung saja mengatakan apapun yang aku rasakan, meskipun itu buruk dan menyakitkan. Maka, aku bulatkan niat untuk berbicara kepada Papa. "Papa,bisa bicara sebentar?" Aku melihat Papa sedang membaca koran, sambil menghisap cerutu ditangan kanannya."Silakan, Rudi" aku tak mengerti, mengapa Papa lebih senang memanggilku Rudi. "Papa tau aku menyayangi Lili?" tarikan kursi yang aku buat cukup membuat Papa meletakkan korannya dan mulai menyimak aku bicara. "Jaa, dia adikmu" Papa mengangguk cepat dan menjawab dalam Belanda. "Nee, Papa. Aku mencintainya" ku beranikan menatap mata Papa yang seketika mematikan rokoknya dan mulai bangkit menghampiriku. Tanpa berbicara, Papa menamparku dengan sangat keras hingga aku tersungkur ke lantai. Saat itu juga, Mama datang dan histeris. "Stoppen, Joddy. Cukup" Mama melindungi tubuhku dari bogem mentah Papa. "Anak Salimah ini mencintai anakmu, Lili. Aku takkan pernah rela. Mereka saudara" Papa berteriak-teriak dalam Belanda, mukanya merah penuh amarah. Aku memeluk Mama erat, kemudian tanpa menjawab, Mama memboyongku kembali ke kamar. Mama, selalu berhasil menghapus sedihku, dan meredam emosiku. Mulai saat itu, ku kuburkan niatku untuk memiliki Lili sepenuhnya. Tidak bisa. Dia adikku, dan selalu membutuhkanku sebagai kakak nya. Meskipun seminggu setelah kejadian itu, Lili berkata "Ben, bagaimana bila aku menyayangimu melebihi kakak?" lalu aku menjawab "Lili,sampai kapanpun kau akan selalu menjadi adikku" meskipun setelah percakapan singkat itu aku kembali ke kamar dan menangis sejadi-jadinya. oh God! andai Papa mengerti, betapa aku mencintai Lili......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme