Terimakasih, Rohi (Bagian 6 -Akhir)

1 Juli 1943. Perasaan bahagia menyelimutiku saat bangun tidur setiap paginya. Jo, kini resmi menjadi calon suamiku. Ia meminta izin untuk menikahiku pada Papa dan Mama, ia juga menyurati Ben untuk meminta izin. Tentu mereka mengiyakan. Ben, kakakku tercinta yang kini menetap di London. Kemarin ia kirimkan dua lembar surat untukku, tak lupa istrinya, Loui juga ikut menyumbangkan guratan tangannya untuk menyapaku di Hindia. Ben bercerita, bahwa ia sangat bahagia. Satu lagi! Aku resmi mempunyai keponakan baru. Eliza namanya, sama seperti namaku. Ben juga menyampaikan bahwa bulan depan ia akan berkunjung kesini, dan hadir di pernikahanku. Bahagia sekali, bukan? Tapi, dua minggu terakhir ini, aku merasakan sepi yang teramat sangat. Papa dan Mama harus pulang ke Nederland, sedangkan Jo harus kembali ke Jerman untuk menghadiri pemakaman Neneknya. "Non, sahaya mohon izin untuk bertanya. Tidakkah Noni sekiranya menyusul Tuan dan Nyonya ke Nederland sekarang? atau menyusul Tuan Jo ke Jerman sekarang juga? atau mengunjungi Tuan Ben di Inggris sana?" seorang babu bernama Irmin menghampiriku yang sedang bercermin di ruang tengah. "Kapal belumlah berangkat dari Tanjung Priok, Non. Sekiranya Noni bersedia berangkat sekarang sahaya akan antarkan Noni" ia tetap berbicara. "Apa maksudmu?" aku membalikkan badan, dan mendapati Irmin menunduk sungkan. "Tentara Nippon sudah memasuki Hindia, Non. Kabarnya, mereka akan mencari dan menangkap seluruh warga Walanda di sini" Irmin berbicara, tetap dalam keadaan menunduk, kemudian tanpa ragu ia menggenggam lenganku. "Ayo, Non cepat pergi dari sini. Nippon akan menyerbu Betawi. Sahaya kuatir Noni..." Irmin menangis, dan aku dengan pelan melepaskan genggamannya "Aku takkan selamat? Akan mati?" aku pergi meninggalkan Irmin yang terus terisak, dan pergi keatas balkon rumahku. Dari gerbang rumahku, kulihat seorang wanita berjalan. Menggunakan kebaya biru tua, dan sebuah selendang untuk menutup kepalanya. Baru kusadari, ia adalah Rohi. Pengasuhku sejak lama. 
Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampirinya dan memeluknya erat. Aku rindu, Rohi! ............................................................................................................................................ 
"Noni Aleeda.." Rohi kini duduk di sampingku, dan tepat diatas kasurku. "Bagaimana kondisi suamimu? Sudahkan sehat?" tak kulepaskan seyum dari bibirku. "Mati, Noni. Tak ada satupun mantri yang dapat menolongnya" Rohi berbicara dengan tegar, tanpa satupun bulir airmata keluar dari pelupuknya. "Maaf. Bagaimana Tardi?" aku berusaha tegar, meskipun kulihat kesedihan yang amat dalam dari wanita renta ini. "Menetap di Cheribon, Non. Ia kawin dan berkeluarga disana. Biarkan ia mengurus anak bininya disana" suara Rohi mulai menguat. Sungguh wanita yang tabah. "Apa pendapatmu tentang tentara Nippon yang sudah masuk ke Hindia?" aku langsung membelokkan pembicaraan. Rohi tersentak dan menanggapi santai "Noni tak pernah takut mati, bukan?" wajahnya mendekatiku, kemudian bola matanya membesar. "Neei, hidup dan mati selalu menjadi rahasia Tuhan" aku berusaha terlihat baik-baik saja. "Bagaimana kalau kematian Noni terjadi pada hari ini? Masihkan Noni takut dan akan menghindar?" Rohi berbicara dengan sedikit tertawa. Jaa, Rohi memang kerap bercanda. Ia tak pernah berubah, dan aku sangat menyayangi Rohi. Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, ia mulai bercerita. "Bukankah umurmu menginjak 22 tahun, Noni? Duapuluh tahun lalu, tepat saat usiamu menginjak dua tahun sesuatu menimpaku. Saat itu, Ibu dan kakakmu sedang pergi ke pasar dan bermain ke Koningsplein. Tinggalah aku, kau, dan Ayahmu yang brengsek itu" Rohi mulai dikepung emosi dan bangkit. Jangan tanya bagaimana reaksiku. Aku tak dapat berkata-kata mendengarnya berbicara seperti itu. Aku rasa, kini rentetan masa lalunya mulai menenggelamkannya dan menyekap pernapasannya. "Saat kau tertidur dikamarmu, aku keluar sebentar untuk sekadar menyapu halaman dan menyiapkan makan untukmu. Dulu, aku sangat menyayangimu. Tiada tara, Aleeda. Lalu ,ayahmu datang dan menutup mulutku. Dibawanya aku ke kamar bawah. Kau tau apa yang ia lakukan? Ia merobek bajuku, kemudian memaksaku melayani nafsu liarnya. Aku tak dapat berbuat banyak. Ayahmu mengunci pintu kamar, dan menggenggam tubuhku dengan sangat kuat. Bagaimana mungkin, wanita lemah dan tak berdaya sepertiku bisa melawan tubuhnya yang besar dan amat kuat? Ya, bisa kau prediksi apa yang terjadi selanjutnya. Ia maling kehormatanku, Aleeda. Perbuatan itu tak hanya dilakukannya sekali. Kuhitung, sudah sepuluh kali. Semua dilakukan saat Ibu dan kakakmu tiada dirumah. Biadab! Sampai kematian suamiku, aku tak berani menceritakannya. Aku benci Nederland" Rohi menjatuhkan dirinya ke lantai dan menatapku penuh amarah. Matanya merah, disesaki airmata. "Lantas,kau membenciku juga?" aku berdiri menjauh dari raga Rohi yang seperti orang kesetanan. "Tentu, Noni. Sudah berkali-kali aku dilecehkan orang-orang dari bangsamu. Sudah belasan kali aku dianggap babi hutan oleh sesamamu. Diburu, diperas tenaganya, dirampas kehormatannya, di robek pakaiannya. Termasuk oleh keluargamu" Rohi tak beranjak dari tempatnya. "Kemana orangtuamu? Pergi kemana calon suamimu? Bukankah mereka sengaja meninggalkanmu? Mereka mengetahui Jepang akan datang dan membiarkanmu mati seorang diri disini?" Aku paham. Sebenarnya, ia mengincar keuargaku Seluruh keluargaku, namun hanya aku yang tinggal disini, sekarang. Rohi sudah kesetanan. Ia mengacak-acak rambutnya. Bersamaan dengan itu, kudengar suara langkah. Tegap dan serentak. Seperti suara langkah tentara.
Saat itu juga Rohi berteriak dalam Melayu, teriakannya amat keras "Sebelah sini, Tuan-tuan" ia membuka pintu kamarku. Terdengar suara Irmin dan beberapa babu lainnya "Jangan, Mak Rohi, jangan. Lari, Noni. Lari sekarang. Loncatlah dari jendela kamarmu". Tapi, aku tak bisa berbuat banyak. Aku mendengar suara tembakan di lantai bawah, dan suara para babu itu menghilang. Mungkin, Nippon telah menembaknya. Kamarku mulai dipenuhi oleh mereka. Dengan tersenyum, Rohi berkata "Kau tak takut mati, kan?" ia tertawa dan melompat-lompat. Lalu, seorang dari mereka menggapaiku, membawaku kelantai bawah. Benar saja, Irmin dan para babu lainnya telah mati ditembak. Rohi tak perduli. Ia terus mengikuti seseorang yang membawaku. Kulihat dari tanda nama dibajunya, ia bernama Maeda. Aku meronta sekuat tenaga, berusaha teriak, dan berulang kali menggigit tangan Maeda. Namun, tak membuahkan hasil. Kulihat, Rohi terus tertawa puas dan berteriak "Ajal didepan matamu, Noni. Terimalah pembalasanku. Sebentar lagi, keluargamu akan hilang kewarasannya". Maeda menjatuhkan tubuhku dihalaman depan, kemudian ia dengan cepat mengeluarkan pedang panjang dari belakang tubuhnya. Seketika, memori indah dalam hidupku terlintas. Saat berlibur bersama Ben di Buitenzorg, saat Mama dan Papa mencium pipiku dihari ulangtahunku dua minggu lalu, saat Jo melamarku dan memintaku untuk menjadi pendamping hidupnya. Termasuk saat dulu aku disuapi oleh Rohi, aku dipeluknya, aku dituntunnya. Tersadar, kudengar Rohi berteriak untuk kesekian kalinya "Lakukan sekarang, Tuan. Kemerdekaan Hindia ada ditangan Bangsamu". Dan pedang panjang itu diayunkan kearah leherku...... 
Aku tak pernah sanggup menceritakan bagian ini. Bagaimana sakitnya, dan tersiksanya aku. 
Aku melihat tubuhku tergeletak di halaman depan rumahku. Bersimbah darah, dengan kepala dan leher yang hampir lepas dari tubuhku. Saat itu juga, aku melihat Rohi tertawa dan berlari meninggalkan jasadku. Aku sama sekali tak tau harus berbuat apa. Tak ada seorangpun yang mendengarkan teriakanku. Aku sudah mati? Jaa, aku sudah mati. Jelas aku sudah mati ditangan Nippon. Jelas ini semua karena Rohi sudah mengadukan keberadaanku kepada Nippon. Jelas Rohi memang membenciku karena ulah Papa. Lalu, sekarang apa? Aku takkan pernah bisa bertemu Ben, melihat anaknya. Aku tak pernah bisa bersatu dan bahagia dengan Jo, dan aku takkan pernah bisa berkumpul dengan orangtuaku....Papa dan Mama. oh, God! Tak berselang lama, aku melihat sebuah lingkaran putih. Tepat didepanku. Seseorang keluar dari lingkaran itu, dan berkata "Berterimakasihlah kepada yang telah membunuhmu. Tuhan merindukanmu. Mari pulang" Kurasakan,tubuhku seperti tersedot kedalam lingkaran itu, dan seseorang berjubah hitam itu terus menggenggam tanganku. Ini adalah bagian akhir dari hidupku. Terimakasih Papa, Mama, Ben, Jo. Terimakasih, Hindia dan tempat kesukaanku, Weltevreden. Terimakasih, Irmin dan para babu yang telah membantu keluargaku. Satu lagi. Terimakasih, Rohi. Sampai akhir hayatku, hanya kau yang menemaniku dan kau yang terakhir kali aku tatap. Terimakasih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme