Lili (Bagian 1)

Aku Lili, seorang anak perempuan Belanda yang sangat sangat sangat bahagia. Aku dikelilingi keluarga yang mencintaiku, termasuk kakak laki-lakiku, Ben juga sangat menyayangiku. Hari-hariku sangat berwarna. Bermain, bercanda, membaca, dan berjalan-jalan. Aku sering menemani Rohi (pengasuhku) berbelanja ke pasar. Semua Pribumi selalu menunduk melihatku, tak tahulah aku ada apa dengan mereka. Hanya Rohi lah seorang Pribumi yang berani menatapku, mendengarkan keluh kesah dan ceritaku, dan memberiku masukkan; bahkan Rohi tak segan memarahiku kalau nakalku terlewat batas. Suatu hari, Papa, Mama dan Ben tak ada dirumah. Mereka pergi ke Buitenzorg (sekarang kalian menyebutnya Bogor) untuk urusan pekerjaan. Saat aku sedang sarapan diruang makan, aku bertanya pada Rohi "Rohi, apakah aku akan selamanya tinggal di negara ini?" kemudian Rohi menjawab seadanya "mungkin iya, mungkin tidak, Non" aku tahu mengapa kalimat sederhana itu meluncur dari mulutnya. Rohi takut dimarahi oleh kedua orangtuaku. Sudah ku katakan, orangtuaku sangat baik dan menyenangkan, namun mereka tidak pernah suka bila ada perbincangan ditengah meja makan. Rohi buru-buru kembali ke dapur dan aku cepat-cepat menyelesaikan sarapanku. Meskipun Mama dan Papa sedang pergi, namun tetap saja ada Jo. Ia merupakan anak buah Papa, dan akan memberitahukan apapun yang terjadi dirumah ini selama Papa pergi. Jo tak pernah bisa diajak berbohong, dan begitu setia kepada Papa. "Jo, mengapa kau begitu teramat sangat menyebalkan?" kemudian aku meneguk air putih didepanku dan membersihkan ujung bibirku dari sisa makanan. Aku berbicara dalam bahasa Belanda. Jo hanya tersenyum, kemudian menjawab dalam Belanda pula "Kau belumlah mengenalku". Jo seorang anak dari bawahan Papa. Ibunya dari bangsa Jerman, dan Papanya dari bangsa Belanda. 
"Noniiii, jangan terlalu cepat jalannya. Sahaya sudah terlalu tua untuk mengejar Noni" Rohi berteriak saat kami melewati daerah Tanah Abang. "Rumah apa ini?" aku bertanya sambil menjemput dan menarik tangan Rohi. Meskupun tua, ia tetap akan menjadi pengasuhku, dan meskipun aku sudah sebesar ini (17 tahun), aku tidak akan pernah mau apabila Rohi pensiun dan meninggalkanku. "Noni belumlah dewasa untuk mengetahui tempat apa disana" Rohi memegang pundakku dan mengajakku berjalan. Pandangan mataku tetap tak ingin lepas dari bangunan 2 lantai yang ada diseberang sana. Catnya berwarna merah tua dengan bangunan khas Eropa. Berdiri megah, "bangunan yang sombong" kataku memekik dalam hati. Tapi, aku belumlah puas hingga mendapatkan jawabannya. "Tapi, aku sudah 17 tahun. Sudah cukup dewasa, bukan?" kataku dalam bahasa Belanda pada Rohi. Meskipun Rohi tak membalas dalam Belanda, namun ia mengerti apa yang aku katakan. "Itu rumah plesiran, Noni. Wanita penghibur yang paling diminati adalah Fientje de Feniks. Namun, ia telah mati. Dibunuh, tahun 1913 lampau. Sudah ayo kembali ke Mesteer. Tuan menunggu" Rohi menyeret aku dan menyuruhku kembali naik ke andong. Meskupun bahasa Melayuku terbata-bata seperti ini, tapi aku cinta bahasa ini. Unik. Dalam perjalanan pulang, aku melihat beberapa anak Pribumi mengantri membeli sesuatu. "Apa itu?" tanyaku pada Rohi yang sibuk mencari kepingan logam dalam tas nya. "Gula-gula, Noni. Khas Betawi" Rohi berbicara tanpa menatap mataku. "Bisakah kau berenti sebentar? Aku ingin membeli makanan aneh itu hahaha" aku berbicara pada kusir yang merupakan anak Rohi, Tardi namanya. Rohi tetap pada fokusnya mencari kepingan logam. Langsung saja aku loncat turun dari andong, Kuhampiri pedagang itu dan aku mulai memilih yang paling besar. Pada saat aku berjalan, warga Pribumi tak bosannya melihat kearahku, kemudian menunduk, Aku tak tahu mengapa, padahal aku sama dengan mereka. Aku merasa tak ada perbedaan antara kami. Aku ambil satu gulali (kalau aku tak salah, nama jajanan itu Gula-gula atau gulali) dan aku tinggalkan dua keping koin. "Non, lain kali jangan beli jajanan disini, dirumah sudah sahaya siapkan makanan kesukaan Noni" Rohi membungkuk membenahi tali sepatuku. "Mengapa orang-orang melihatku seperti itu, Rohi? Aku sama dengan mereka. Aku tidak suka dipandang seperti itu" kataku memelas. "Mereka menganggap Noni cantik, sehingga enggan melihat Noni keseluruhan. Takut menjadi suka" Rohi sedikit tertawa, kemudian baru aku sadar nadanya sedikit mengejek.
"Kau sudah 17 tahun, Lili. Maukah sekiranya kau melajutkan sekolah ke Nederland?" Mama bertanya dalam Belanda, kemudian duduk dikasurku. Aku sedang siap-siap tidur pada saat itu. "Ben?" tanpa menjawab pertanyaan Mama, aku langsung bertanya tentang Ben yang sudah satu minggu tak pulang kerumah. "Ben akan menyusul secepatnya, Lili. Sekarang kau mau atau tidak?" Mama mendekatkan wajahnya ke wajahku dan bertanya pelan dalam Belanda. "Tidak, Mama. Aku tak akan pergi tanpa Ben" oh God! seandainya wanita ini mengerti betapa aku menyayangi Ben......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Corat Coret Malam Hari: Kereta Api Sebagai Bukti Kuasa Belanda di Nusantara

Ketika Buntu.

Utak Atik Sinetron Bertema ‘Pelakor' di Indonesia: Sebuah Pandangan Berlandaskan Feminisme