Postingan

Tanpa Ujung (Bagian Kedua)

Surya berlari ketika tahu istrinya meninggalkan Kina seorang diri dirumah. Sesampainya dirumah, pria bertubuh jangkung itu menemukan Kina tengah asyik menonton televisi; dan setengah terlelap. Kemudian, ia berjalan ke dapur untuk sekadar mengisi perut. “Pak, tadi aku lihat Ibu pergi dengan seorang pria. Aku kira, itu Bapak,” tiba-tiba Kina berdiri tepat di belakang Surya. “Tidak, nak. Ibu mu tadi pergi bersama kawannya,” Surya memilih melanjutkan pekerjaan memperbaiki kulkas tetangga dua pintu yang teronggok di garasi rumahnya. ..................................................................................................................................................................                 “Ada yang ingin kamu sampaikan, Kina?” Rega, seorang polisi berusia kurang lebih 28 tahun mendekati Kina yang duduk dengan tatapan kosong di pojok ruang tahanan. “Hey, kamu masih sangat muda. Dua puluh ta...

Tanpa Ujung (Bagian Pertama)

Kina merasa sangat lelah saat ia harus menapaki langkah menuju pesakitan. Dihadapannya, berjajar beberapa orang jaksa. Saat tiba diruang sidang, Kina disambut sorakan orang-orang; entah siapa dan darimana. Kina memberanikan diri mengangkat wajah dan sedikit melempar padangan ke arah mereka, namun tak satupun dikenalnya.                 Dua polisi wanita berbadan lebih tinggi yang sedari tadi menggenggam lengan Kina pun menyilakannya duduk. Tatapan seorang pria paruh baya membuat Kina sedikit gemetar. “Rakina Amanda Satya, kamu sadar salahmu apa?” tanya pria itu sopan, pelan, namun diucapkan dengan intonasi menekan. Kina hanya sanggup menggelengkan kepala dan berkata lemah, “Bukan saya, Pak” sontak, perkataan gadis 20 tahun itupun disambut dengan celotehan dan cemoohan “para undangan” yang hadir. “Pembunuh kau, bangsat!” , “Wanita tak tahu diuntung,” dan berbagai hujatan lain. Kina hanya mematung. Ia tertundu...

Untuk Tuan Minke.

Gambar
Beludru merah erat memeluk lukisan, Bunga Akhir Abad tertawa di atas luasnya harapan. Seorang lelaki tetap berharap di bawah lipatan duka, Kumisnya tebal. Ia termenung sembunyikan muka. Sementara, Wanita Tiongkok tersenyum dalam bingkai masa lalu. Tubuh kurusnya tetap kirimkan mimpi dan padamkan haru. Sempat menjadi penyembuh, Namun kini hilang tak tersentuh. Sang pria tetap tenang menunggu gadisnya yang lain, Jarak menyiksa; sementara air mata tak terseka. Bocah kecil yang dulu digendong, menjelma menjadi gadis peranakan Eropa yang eloknya tak tertolong. Sebagai pengagum kecantikan, si pria tak sanggup elakkan, Terpikir ingin kawinkan raga dan perasaan, namun terbentur penolakkan. Sang pria hidup berkelakar tabah, Dua kali ditinggal mati, tapi ia tak akan pernah lelah. Terbaring diatas lantai, Kemudian kucurkan air mata penuh hina. Kepada seluruh penghuni Bumi Manusia , Anak -anak dari Semua Bangsa, dan pemilik Jejak Langkah , Silakan berteduh di Rumah Kaca , ...

Terimakasih, Rohi (Bagian 6 -Akhir)

1 Juli 1943. Perasaan bahagia menyelimutiku saat bangun tidur setiap paginya. Jo, kini resmi menjadi calon suamiku. Ia meminta izin untuk menikahiku pada Papa dan Mama, ia juga menyurati Ben untuk meminta izin. Tentu mereka mengiyakan. Ben, kakakku tercinta yang kini menetap di London. Kemarin ia kirimkan dua lembar surat untukku, tak lupa istrinya, Loui juga ikut menyumbangkan guratan tangannya untuk menyapaku di Hindia. Ben bercerita, bahwa ia sangat bahagia. Satu lagi! Aku resmi mempunyai keponakan baru. Eliza namanya, sama seperti namaku. Ben juga menyampaikan bahwa bulan depan ia akan berkunjung kesini, dan hadir di pernikahanku. Bahagia sekali, bukan? Tapi, dua minggu terakhir ini, aku merasakan sepi yang teramat sangat. Papa dan Mama harus pulang ke Nederland, sedangkan Jo harus kembali ke Jerman untuk menghadiri pemakaman Neneknya. "Non, sahaya mohon izin untuk bertanya. Tidakkah Noni sekiranya menyusul Tuan dan Nyonya ke Nederland sekarang? atau menyusul Tuan Jo ke Jerma...

Nippon (Bagian 5)

Senang rasanya aku selalu dibersamakan dengan Jo. Sekarang, dia bukan hanya penjagaku yang dilantik langusng oleh Ben. Tapi Jo juga menjadi sahabatku, pendengar terbaikku, dan tamengku dari hal-hal menyedihkan. Hari-hariku menjadi lebih bahagia semenjak....kepergian Ben. Terimakasih, Jo. Saat aku sedang asyik berbincang dengan Jo, Rohi datang dan duduk mengampu didepanku. "Noni, sahaya mohon ampun. Sahaya harus pergi" Rohi berkata sambil menundukkan kepala. Kudengar suaranya bergetar, kemudian ia berusaha menahan airmata. "Ada apa, Rohi? Apa kau semakin tak kuat mengurusiku yang semakin dewasa ini? Apakah uang yang diberikan Papa kurang untuk membayar jasamu?" Aku sontak kaget dengan pernyataannya. Disampingku, Jo langsung berdiri, matanya tajam mengawasi Rohi. "Tidak, Noni. Sahaya mohon izin, mohon ampun. Suami sahaya sakit di Cheribon. Kuli, Noni, demam tinggi sudah satu minggu lebih. Sahaya tak kuat untuk tak bertemu dan merawatnya. Mohon ampun, Noni" ...

Weltevreden (Bagian 4)

Tak butuh waktu lama bagiku untuk merelakan Ben pergi, hanya dua minggu setelahnya aku berhasil bangkit. Ben tak ingkar, ia tetap menjagaku dengan buku-bukunya. Ben tak mau aku terbelakang, terpinggirkan oleh manusia-manusia di Betawi ini yang sudah mulai maju. Sedari kecil, Ben selalu menginginkanku menjadi wanita yang cerdas seperti Mama. Kemudian, kuberanikan diri membuka kamar Ben. Lalu, mulai ku ambil beberapa buku yang menarik. Salah satunya adalah buku Medan , buku yang ditulis oleh Kartoatmadja seorang terpelajar Pribumi dari tanah Jawa. Mengisahkan kebangkitan dan tenggelamnya sebuah organisasi yang diketuai Raden Mas Minke. Baru membaca halaman pertamanya saja, aku langsung tertarik dengan kepribadian lelaki ini. Pribumi yang berani. Mungkin, karena ia terpelajar, jadi tak bisa ditindas begitu saja oleh Pemerintah. Aku keluar dari kamar Ben sambil setengah berlari. Kemudian, aku melihat Jo sedang duduk di sitje, akupun menyusul duduk disebelahnya dan membuka pembicaraan deng...